Kekuatan Intlektual dan Kemunculan Teori Sosiologi Lengkap

March 21, 2017
Dalam kehidupan nyata, kekuatan intlektual ini tentu saja tidak dapat dipisahkan dari kekuatan sosial. Misalnya, dalam diskusi tentang abad peencerahan akan dijumpai bahwa gerakan pencerahan itu berkaitan erat dengan, dan dalam berbagai hal menyediakan basis intlektual bagi perubahan sosial.
Berbagai kekuatan intlektual yang menentukan perkembangan teori sosiologi akan dibahas dalam konteks nasional karena dalam kehidupan nasional itulah pengaruhnya terutama dirasakan. Kita akan memulai abad pencerahan dan pengaruhnya terhadap perkembangan teori sosiologi di Prancis.
Abad Pencerahan
Banyak pengamat yang melihat abad pencerahan sebagai faktor penting yang mempengaruhi evolusi teori sosiologi  berikutnya (Hawthorn 1976; Hughes, martin dan Sharrock, 1995; Nisbet 1967; Zeitlin 1996). Pencerahan adalah suatu periode perkembangan intlektual dan pembahasan pemikiran filsafat yang luar biasa. Sejumlah gagasan dan keyakinan lama kebanyakan berkaitan dengan kehidupan sosial dibuang dan ganti selama periode pencerahan. Pemikir paling terkemuka pada masa pencerahan ini adalah dua orang filsuf prancis. Charles Montesquieu (1689-1755) dan Jean jacques Rousseau (1712-1778). Pengaruh abad pencerahan terhadap teori sosiologi lebih banyak bersifat tak langsung dan negatif ketimbang bersifat langsung dan positif. Seperti dinyatakan Zeitlin, “sosiologi awal dikembangkan sebagai reaksi terhadap pencerahan.” (1996:10).
Pemikiran yang berhubungan dengan pencerahan terutama dipengaruhi oleh dua arus intlektual utama, yakni sains dan filsafat abad 17. Filsafat abad 17 berkaitan dengan karya pemikir seperti Rene Descartes, Thomas Hubbes dan Jhon Locke. Penekanannya adalah pada sistem gagasan yang sangat abstrak, umum dan rasional. Pemikiran berikutnya yang berhubungan dengan abad pencerahan tidak menolak penjelasan bahwa sistem ide haruslah bersifat umum dan rasional, tetapi mereka berupaya lebih keras untuk mendapatkan ide dari kehidupan nyata dan mengujinya dalam kehidupan nyata itu pula. Dengan kata lain mereka ingin menggabungkan riset empiris dengan pertimbangan akal (Seidman, 1983: 36-37). Model untuk paham ini adalah sains, terutama fisika newton. Pada titik inilah kita mulai melihat penerapan metode ilmiah terhadap masalah sosial. Pada tingkat lain, pemikir pencerahan bukan Cuma menginginkan gagasan mereka yang ada berasal dari dunia nyata, tetapi merekapun menginginkan agar gagasan mereka bermanfaat bagi dunia sosial, terurtama untuk malakukan analisis kritis terhadap dunia sosial.
Secara keseluruhan, abad pencerahan ditandai oleh keyakinan bahwa manusia mampu memahami dan mengontrol alam semesta  dengan menggunakan nalar dan riset empiris. Mereka berpendapat karena alam fisik didominasi oleh hukum alam , maka sosialpun ditentukan oleh suatu hukum tertentu. Karena itu, hakikat dunia sosial dapat diketahui beik dengan menggunakan akal ataupun dengan riset. Segera setelah mengetahui bagaimana dunia sosial bekerja, pemikir pencerahan mempunyai tujuan praktis menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih rasional.

Referensi: ( Teori Sosiologi Modern ) edisi keenam.
Previous
Next Post »

1 comment